Sistem yg dibuat proxsis adalah autonomous dan mudah berubah (agility) yang terhubung dalam satu Jaringan Kolaborasi. Yaitu dengan cara membuat

  1.  Bisnis2 independent bekerja sesuai target bisnis atau target bersama (common purpose). Target dipecah menajdi objective team dan invididu. Dipecah dalam leading maupun lagging indicators.
  2. Proxsis juga menjadikan result baik leading maupun laging sbg hal paling penting. Atau disebut dg system ROWE. (Result only working environment). Result driven.bukan berarti mengabaikan proses..justru result driven butuh proses-proses yang hebat. Karena result adalah output dari proses. Kalau anda result drive maka proses anda harus bagus. Kalau anda process driven..maka result belum tentu bagus. Lakukan perubahan proses terus menerus (agile).
  3. Proxsis memiliki banyakTeam2 independent bukan hanya dalam 1 group..1 pt dan 1 sbu..juga ada banyak team independent lain spt team kepsek dan team tele, team topex, team GA…atau digital dan teamnya yang bekerja dg autonomous dan customized sesuai keunikan masing bisnis…semua fokus.sesuai KPI nya -rowe.
  4. Decission.making juga berbeda sesuai dg risk, competency dan resources. Pasti ada yang gagal karena sudah terbiasa di organisasi hyrarcy dg komando terpusat…dan system control ketat….Sehingga ketika diberikan autonomous..malahmspt kuda liar bingung kandangnya dimana dan akhirnya merusak integrity.
  5. Team diminta membuat.keputusan sendiri..dg memberi batasan yang tidak terlalu banyak spt Budget dan Target margin. TENTU ada juga common value yg harus disepkati..
  6. Fokus pada core.process dan lakukan outsourcing pada process pendukung…Ketika support.pricess dikelola sendiri…para Biz leader yg memiliki Proses pendukung spt it op, hr, accounting, digital mrktg cendrung kehilangan fokus karena terlalu banyak yang minta keputusan dan saran ke biz leader tsb..MANAGER dan supervisor yg urus proses pendukung juga.tidak tahu arah dan target yg diharapkan. Sekarang ketika proses tersebut dibuat terpisah dan dikelola sng ndependent business unit, lalu semua bisnis lakukan outsouricing ke mereka, .maka sekarang semua jadi punya SLA yang dan tahu apa.harapan dari bisnis2 yang dulu satu team dan sekaeang menjadi customer yang harus dilayani. Tidak perlu lagi komando manajemen.
  7. Leader jadi bamyak dan tidak tergantung pada satu orang.atau tidak terpusat.
  8. Ownership juga menjadi tersebar. Bukan hanya ownership secara komsep…di Proxsis owmership dituangkan dalam bentuk real.
  9. Setiap.individu merasakan work liberation atau kemerdekaaam bekerja. Dan diberi kesempatan mengeluarkan potensi maksimal untuk berkarya dg full capacity.
  10. Itu sebabnya kita tidak menyebutnya sbg pekerjaaan tp menyebutnya sebagai kegiatan berkarya sesuai passion, goals pribadi yang diselaraskan dg common purposes bersama dan perusahaaan.. Sehingga Proxais bisa dilihat sebagai wadah bukan sebagai Pemberi perintah. Wadah untuk berkarya bagi anda semua.

O ya..yang kita lakukam diatas bukan teori ya. Sudah kita lakukam lebih 10 tahun. Ketika orang masih tahap diskusi konsep autonomous ,kita sudah memulainya.pada tahun 2007,dua tahun setelah Proxsis berdiri. Sesuai istilah yang sedang berkembang sekarang, Kita bisa menyebutnya sebagai holarchy management system. Ada konsultan dari eropa yang mempopulerkan dg istilah holacracy system.

Menurut wikipedia;
The term holacracy is derived from the term holarchy, coined by Arthur Koestler in his 1967 book The Ghost in the Machine. A holarchy is composed of holons(Greek: ὅλον, holon neuter form of ὅλος, holos “whole”) or units that are autonomous and self-reliant, but also dependent on the greater whole of which they are part.[5] Thus a holarchy is a hierarchy of self-regulating holons that function both as autonomous wholes and as dependent parts.[5]

Pada tahun 2015 keluar buku dari holacracyone yang memberi isitilah holacracy untuk system spt.itu…

Tidak tahu kapan mulainya..tapi holacracy adalah istilah umtuk membedakan drinya dengan hirarcy model.

System.ini terlihat keren..namun jangan harap bisa dijalankan pada team atau personal yg justru tidak mau inisiatif atau yang tidak mau mengeluarkan potensi maksimalnya…tidak.cocok untuk team yang justru masih jadul yang bekerja karena diperintah. Umumnya orang follow order bukan follow Leader.

System ini juga tidak.cocok buat team yang tidak punya jiwa entrepreneurship, tidak cocok buat peronal yang tidak.memiliki value kejujuran atau integrity..tidak proffesional.tidak.accountable..atau tidak strive for result.

Namun kalau anda punya team dengan value yang baik..maka buanglah system hirarcy jadul ganti dengam holarchy, yang di Proxsis disebut juga dg Proxsis Value based collaborative business models.

Kalau anda menerapkan system Holarxhy , maka kita akan ciptakan empowerment yg hebat buat semua karyawan dibantu dengan clear purposes oleh setiap.individu, yang bisa sejalan dan searah untuk seluruh organisasi. Maka organisasi akan berubah dari heroic of a person menjadi kekuatan Team dan System.

Sekarang semua paham kekuatan Proxsis datang dari mana. (Lihat presentasi konteks Apa itu Proxsis.di posting sebelumnya). Collaboration always win.

Rujukan;
//www.holacracy.org/#1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu
Open chat
Hello, can we help you?